5 Makanan Khas Legendaris di Sekitar Alun-alun Bandung Wajib Coba!
5 Makanan Khas Legendaris di Sekitar Alun-alun Bandung Wajib Coba! Jelajahi jantung kuliner Kota Kembang! Ini dia 5 makanan khas legendaris di sekitar alun-alun Bandung yang telah memikat lidat selama puluhan tahun… Jangan lewatkan cerita di balik setiap gigitannya.
5 Makanan Khas Legendaris di Sekitar Alun-alun Bandung: Warisan Rasa yang Tak Tergantikan
Bandung – Mengunjungi Paris van Java tidak akan lengkap tanpa sebuah ritual kuliner di pusat kotanya. Di sekitar Alun-alun Bandung, tersembunyi harta karun gastronomi yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu, menyajikan cita rasa yang tidak pernah lekang oleh zaman. Artikel ini akan membawa Anda menyusuri 5 makanan khas legendaris di sekitar alun-alun Bandung yang tidak hanya memuaskan lidah tetapi juga menyimpan segudang cerita dan nostalgia. Bagi para pelancong, ini adalah daftar wajib yang harus ditaklukkan.
Kawasan alun-alun bukan hanya tentang hiruk-pikuk aktivitas masyarakat, tetapi juga merupakan episentrum dari kuliner otentik Bandung. Sebuah survei yang dilakukan oleh Komunitas Sadar Kuliner Bandung pada awal 2023 mengungkapkan bahwa 85% wisatawan kuliner yang datang ke Bandung menjadikan kawasan sekitar alun-alun sebagai tujuan utama mereka untuk mencari pengalaman makan yang autentik. “Alun-alun Bandung adalah museum hidup kuliner kota. Setiap sudutnya menyimpan legenda rasa yang sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka. Di sini, Anda bukan hanya membeli makanan, tetapi juga sepotong sejarah,” ujar Asep Saeful Rohman, seorang sejarawan kuliner dan penulis buku “Bandung dalam Rasa”.

1. Batagor Kingsley: Sang Legenda yang Merevolusi Jajanan Jalanan
Tidak ada yang bisa menyangkal tahta Batagor Kingsley dalam peta kuliner Bandung. Sejak pertama kali berjualan pada tahun 1985, kedai sederhana ini telah berhasil mengangkat status batagor dari jajanan pinggir jalan menjadi sebuah hidangan ikonik yang wajib dicoba oleh setiap pengunjung. Yang membedakan Kingsley dengan yang lain adalah resep rahasia pada tiga elemen utamanya: tahu, gorengan, dan saus kacang.
Tahu yang digunakan adalah tahu Bandung putih yang lembut, diisi dengan adonan tenggiri pilihan yang kenyal dan gurih. Setelah digoreng hingga kecokelatan, batagor disiram dengan saus kacang kental yang kaya rasa, ditambah kecap manis dan sambal pedas yang menggugah selera. Seporsi batagor lengkap dengan lontong di sini bisa didapat dengan harga yang sangat terjangkau, sekitar Rp 25.000. Lokasinya yang hanya berjarak 500 meter dari alun-alun membuatnya selalu dipadati pembeli, membentuk antrean yang menjadi pemandangan biasa setiap harinya.
2. Colenak (Coléng Dodol) di Sudut Jalan: Meriahkan Malam di Alun-alun
Colenak, atau akrab disebut Coléng Dodol, adalah dessert tradisional Sunda yang sempurna untuk menghangatkan diri di kala malam. Nama “colenak” sendiri berasal dari singkatan “dicocol enak“, yang menggambarkan cara menyantapnya: dengan mencolek (mencocol) dodol yang dipanggang dengan saus gula aren cair. Gerobak-gerobak colenak biasanya mulai bermunculan di sekitar alun-alun saat senja tiba, menawarkan suguhan manis yang sederhana namun memikat.
Proses pembuatannya adalah sebuah pertunjukan tersendiri. Dodol yang terbuat dari ketan dipanggang di atas bara arang hingga bagian luarnya renyah dan bagian dalamnya lembut dan hangat. Kemudian, dodol panggang ini dicelupkan ke dalam saus gula aren (gula kawung) yang hangat, kental, dan aromatik. Perpaduan tekstur kenyal dan renyah dari dodol dengan rasa manis caramel dari gula aren menciptakan harmoni rasa yang luar biasa. Menikmati colenak sambil duduk di kursi lipat kecil dan menikmati keramaian alun-alun malam hari adalah pengalaman khas Bandung yang tak terlupakan.
3. Bandros (Bandung Durung Roso): Jajanan Tempo Doele yang Tetap Kekinian
Bandros mungkin adalah jajanan yang paling identik dengan nama kota Bandung. Nama ini sendiri konon adalah akronim dari “Bandung Durung Roso” (Bandung Belum Terasa) yang artinya, belum merasa lengkap berkunjung ke Bandung jika belum mencicipi bandros. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan ini dimasak dalam cetakan wajan kecil yang dipanaskan di atas kompor arang, memberikan aroma smokey yang khas.
Ciri khas bandros adalah teksturnya yang renyah di bagian luar namun lembut dan sedikit kenyal di dalam. Taburan gula pasir dan keju parut di atasnya menambah dimensi rasa manis dan gurih. Meski terlihat sederhana, keahlian dalam mengontrol suhu kompor adalah kunci untuk menghasilkan bandros yang sempurna. Penjual bandros tradisional dengan kompor arangnya masih dapat dengan mudah ditemui di trotoar sekitar alun-alun, menjualnya dengan harga sangat murah, biasanya tiga biji untuk Rp 10.000. Bandros adalah bukti bahwa kelezatan sejati tidak perlu rumit.
4. Surabi Kuah Hijau dari Gerobak Tua: Rahasia yang Diturunkan ke Generasi
Surabi adalah pancake tradisional Sunda yang telah ada sejak zaman dahulu. Di sekitar alun-alun Bandung, salah satu varian yang paling dicari adalah Surabi Kuah Hijau. Yang membuatnya istimewa adalah kuahnya yang berwarna hijau, terbuat dari santan yang dimasak dengan daun suji atau pandan, memberikan aroma wangi dan warna alami yang menakjubkan.
Surabi itu sendiri terbuat dari tepung beras, dimasak dalam cetakan tanah liat kecil di atas tungku arang, memberikan bagian pinggirnya yang garing dan bagian tengahnya yang lembut. Kuah hijau yang gurih dan kental kemudian disiram secara liberal di atas surabi. Beberapa penjual menambahkan ketan hitam atau potongan pisang ke dalam kuahnya untuk menambah tekstur dan rasa. Rasa gurih santan yang dominan dengan aroma wangi pandan membuat surabi ini berbeda dengan surabi manis pada umumnya. Setiap gerobak penjual surabi seringkali memiliki resep turun-temurun, menjadikan setiap gigitan sebuah warisan keluarga.

5. Cimol Hot Jeletot: Legenda Muda dengan Popularitas Meledak
Meski usianya tidak selegenda lainnya, Cimol Hot Jeletot telah dengan cepat menjadi ikon kuliner baru di sekitar alun-alun Bandung. Cimol, singkatan dari “aci digemol” (aci/tapioka dibentuk bulat), adalah jajanan murah meriah yang berasal dari Bandung. Inovasinya terletak pada bumbu “jeletot” yang sangat pedas, sebuah istilah Sunda untuk menggambarkan rasa pedas yang menyengat dan membuat mata berair.
Cimol yang kenyal dan garing setelah digoreng ini kemudian dibalut dengan bubuk cabai campuran yang pedasnya bukan main. Level pedasnya seringkali bisa dipilih, dari level “sedang” hingga “ghost pepper” untuk yang paling berani. Meski sederhana, popularitas cimol hot jeletot meledak berkat media sosial, menjadikannya salah satu jajanan yang paling banyak dicari oleh kaum muda. Gerobak-gerobak dengan tulisan “Cimol Hot Jeletot” bertebaran di sudut-sudut alun-alun, menawarkan tantangan pedas dengan harga yang sangat murah, biasanya Rp 5.000 per bungkus.
Melestarikan Warisan Rasa di Setiap Gigitan
Menjelajahi 5 makanan khas legendaris di sekitar alun-alun Bandung adalah seperti melakukan perjalanan waktu melalui lidah. Dari Batagor Kingsley yang revolusioner, kelembutan manis Colenak, nostalgia yang dibawa oleh Bandros, keunikan Surabi Kuah Hijau, hingga ledakan pedas Cimol Hot Jeletot—setiap hidangan menawarkan cerita, sensasi, dan kenangan yang berbeda. Mereka adalah penjaga gerbang kuliner autentik Bandung, menawarkan pengalaman yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengisi perut.
Keuntungan dari menjelajahi kuliner legendaris ini adalah jaminan rasa yang telah teruji oleh waktu dan puluhan ribu lidat. Anda tidak hanya mendapatkan makanan enak, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah tradisi dan mendukung kelestarian usaha kecil yang telah menjadi tulang punggung ekonomi kreatif kota.
Oleh karena itu, saat Anda menginjakkan kaki di Kota Kembang, pastikan untuk menyusuri sekitar alun-alunnya. Ikuti aroma yang terbawa angin, dekati gerobak-gerobak yang ramai, dan jangan ragu untuk mengobrol dengan penjualnya. Setiap gigitan adalah sebuah cerita. Bagikan pengalaman kuliner legendaris Anda di kolom komentar dan tag foto perjalanan rasa Anda di media sosial. Selamat menikmati warisan rasa Bandung!



